Month: April 2021

Film yang Diambil dari Kisah Nyata dan Viral di Internet 2

Artikel yang satu ini melanjutkan artikel yang sebelumnya, yang mana di artikel yang sebelumnya membahas mengenai film-film yang diambil dari kisah nyata dan juga kisahnya viral di internet pada masa-masa itu. Disini kami akan mengulang sedikit artikel yang sebelumnya agar kalian tidak melupakan pembahasan yang sebelumnya. Film yang diangkat berdasarkan kisah Sbobet nyata selalu memberikan kesan bagi penontonnya kesan yang sangat mendalam. 

Ada perasaan yang tertentu yang akan timbul lalu akan menunjukan kalau hal yang seperti ini memang pernah terjadi, dan perasaan itu biasanya akan sukses mengaduk-ngaduk emosi para penontonnya. Kesan dari kisah nyata ini akan membuat siapa saja merasakan apa yang ada di film tersebut, meskipun film-film tersebut kebanyakan film lama tetapi film-film nya sangat di recomended untuk kalian tonton film nya juga tidak kalah menariknya dari film-film yang baru. Berikut ini ada kisah dari nyata yang dijadikan film dan menjadi film yang paling rekomended untuk mengisi waktu luang kalian. Berikut diantaranya.

The 33 di Tahun 2015

Mungkin, siapa pun yang menonton film ini pasti emosinya akan tersentuh. Film ini sendiri mengisahkan tentang 33 orang pekerja tambang tembaga-emas San Jose, Chile, yang terjebak akibat musibah tambang ambruk. Pertanyaannya, bagaimana 33 orang yang terjebak sejauh 700 meter di bawah permukaan tanah bisa bertahan hidup?

Dengan persediaan air dan makanan yang terbatas, 33 pekerja tambang ini berada dalam persimpangan antara hidup dan mati yang mengharukan. Dalam film ini akan diangkat pula bagaimana kondisi para pekerja tambang yang kerap diperlakukan tidak layak, namun kondisi ekonomi memaksa mereka bekerja dengan risiko seperti ini. Ya, ini merupakan film yang diangkat dari kisah nyata. 

The Man Who Knew Infinity di Tahun 2015

The Man Who Knew Infinity mengangkat kisah seorang ahli matematika dari India yang bernama Srinivasa Ramanujan. Kisah Ramanujan bukan kisah biasa. Ia adalah matematikawan yang temuannya dipakai untuk memahami pergerakan blackhole hingga saat ini. Berlatar belakang Perang Dunia I, temuan Ramanujan ketika itu dianggap layak untuk disandingkan dengan temuan Isaac Newton atau Archimides sekalipun.  Ramanujan sejak awal hanyalah orang miskin yang tinggal di perkampungan Madras, India. Ia belajar matematika secara otodidak hingga bisa melahirkan teorema matematika dari kepalanya sendiri. Ramanujan yakin bahwa temuannya itu layak untuk dipublikasikan secara ilmiah. Ramanujan kemudian nekat mengirimkan temuannya ke Universitas Cambridge melalui pos. Hingga pada suatu saat, Profesor Hardi dari kampus tersebut merespon temuan Ramanujan dan mengundangnya untuk studi di sana.

Kisah-kisah menarik dapat dipetik dalam film ini. Misalnya saja seperti Ramanujan yang merupakan seorang Hindu taat, harus membuktikan temuan matematikanya di hadapan Profesor Hardi yang merupakan seorang ateis. Atau, betapa setianya Ramanujan terhadap istrinya yang buta huruf walaupun ditinggal lama untuk studi di Inggris. Setelah ia berhasil mempublikasikan temuannya di Universitas Cambridge, Ramanujan memilih pulang ke kampungnya di India dan menghabiskan hidup bersama istrinya. Malangnya umur Ramanujan tidak panjang. Ia meninggal di usia 32 tahun, tak lama setelah kepulangannya dari Inggris.

The Big Short di Tahun 2015

Film yang satu ini mungkin sedikit lebih gampang dinikmati karena dikemas dengan gaya komedi yang ringan. Namun, kisah yang diangkat dalam film ini tidak main-main dan pada dasarnya lumayan berat. The Big Short menceritakan sebuah kisah dibalik krisis ekonomi tahun 2008 yang menerpa Amerika Serikat dan juga berdampak buruk pada kondisi ekonomi global. Jika kita telusuri, krisis ekonomi tahun 2008 ternyata disebabkan oleh sektor kredit perumahaan yang macet dan tak terdata dengan baik.

Sebenarnya, para ahli keuangan dan pebisnis besar di Amerika Serikat tak ada yang memprediksi hal ini akan terjadi. Namun, empat orang pegiat dunia keuangan berpikir sebaliknya. Empat orang ini telah memperkirakan keruntuhan gelembung kredit perumahan di kisaran pertengahan tahun 2000-an. Melawan arus, mereka akhirnya mengambil alih bank-bank besar karena hampir semua orang tak memikirkan pandangan ke depan seperti mereka.  Oh iya, akan ada sedikit banyak istilah-istilah investasi dan ekonomi yang digunakan dalam film ini. Jadi, mungkin kita akan sedikit berpikir lebih keras jika tidak akrab dengan istilah-istilah tersebut.

The Walk di Tahun 2015

Film yang diangkat dari kisah nyata terakhir yang saya rekomendasikan adalah The Walk. Menceritakan perjalanan Philippe Petit, seorang seniman jalanan dari Prancis. Keahlian utama Philippe adalah seni wire walker atau berjalan diatas seutas tali. Ia kerap mempertontonkan keahliannya ini di sudut-sudut jalanan Kota Paris dan bertahan hidup dari uang yang diberikan penontonnya.

Suatu waktu, ketika Philippe sedang membaca koran, ia tak sengaja melihat berita pembangunan dua buah gedung tertinggi di Amerika Serikat. Ia pun bertekad akan melakukan aksi wire walker diantara dua gedung tinggi tersebut suatu saat nanti. Dua gedung tersebut sekarang kita kenal dengan nama World Trade Center. Perjalanan Philippe yang seru dan menegangkan pun terjadi. Ia hidup dari pertunjukkan seni, bertemu rekan-rekan untuk menjalankan aksinya, serta mempertontonkan wire walker di atas bangunan-bangunan bersejarah secara ilegal. Mampukah ia mewujudkan mimpinya untuk beraksi di atas World Trade Center? Kalian bisa menontonnya agar mengetahui alur cerita yang ada di film ini.

Pearl Harbour di Tahun 2001

Film yang satu ini memang berasal dari tahun yang sudah lama sekali tetapi kalian wajib nonton film yang satu ini. Karena film yang satu ini orang Indonesia pasti tidak akan pernah melupakan momen dimana pengeboman di kota Nagasaki dan juga Hiroshima di Jepang. Peristiwa tersebut yang membuat negara Matahari Terbit itu perlahan angkat kaki dari wilayah Nusantara. Konflik ini kemudian dibuat ke dalam movie, dan kemudian menjadi salah satu film Perang Dunia 2 terbaik hingga kini.

Sebelum Amerika Serikat (AS) memutuskan melepaskan dua buah bom atom ke daratan Jepang, tentara Negeri Samurai ini lah yang terlebih dahulu menyerang pangkalan militer AS di Hawaii yang bernama Pearl Harbour. Kejadian yang menewaskan banyak tentara dan warga sipil dari pihak AS diangkat menjadi salah satu film perang dunia kedua terbaik oleh sutradara Michael Bay.

Letters From Iwo Jima di Tahun 2006

Mayoritas film perang dunia kedua berangkat dari sudut pandang Amerika Serikat dan sekutu. Namun, karya Clint Eastwood yang satu ini berbeda. Dia memilih mengambil sudut pandang perang dari sisi tentara Jepang. Letters from Iwo Jima dapat disebut sebagai salah satu film perang terbaik karena tidak hanya menampilkan adegan peperangan yang seru, namun juga mengisahkan cerita yang selama ini tersembunyi. Cerita mengenai kesedihan peperangan di Iwo Jima baru terungkap ketika para arkeolog Jepang melakukan penelitian di gua-gua di sepanjang Pulau Iwo Jima di tahun 2005.

Film ini sendiri bercerita tentang pendaratan tentara sekutu di Pulau Iwo Jima dan upaya tentara Jepang untuk mempertahankan pulau penting tersebut. Akhirnya, para tentara Jepang terpaksa bertahan di gua-gua yang disulap menjadi markas pasukan Jepang. Namun, serangan pasukan sekutu dan kesalahan strategi membuat tentara Jepang terjebak. Kondisi sanitasi yang buruk dan kurangnya makanan membuat banyak di antara pasukan tidak mati dalam peperangan melainkan karena sakit, kelaparan dan bunuh diri. Sebuah film perang yang akan menggetarkan rasa kemanusiaan kita.

, , ,

Film yang Diambil dari Kisah Nyata dan Viral di Internet

Film yang diangkat berdasarkan kisah nyata selalu memberikan kesan bagi penontonnya kesan yang sangat mendalam. Ada perasaan yang tertentu yang akan timbul lalu akan menunjukan kalau hal yang seperti ini memang pernah terjadi, dan perasaan itu biasanya akan sukses mengaduk-ngaduk emosi para penontonnya. Kesan dari kisah nyata ini akan membuat siapa saja merasakan apa yang ada di film tersebut. Berikut ini ada kisah dari nyata yang dijadikan film dan menjadi film yang paling rekomended untuk mengisi waktu luang kalian. Berikut diantaranya.

A Beautiful Mind di Tahun 2001

A Beautiful Mind awalnya adalah film paling recomended. Katanya, setiap mahasiswa yang mendalami ilmu ekonomi wajib menonton film ini. A Beautiful Mind sendiri adalah film yang diangkat dari perjalanan hidup seorang ahli matematika sekaligus peraih nobel ekonomi yang bernama John Nash. Ternyata dibalik otak cerdas John Nash, ia mengidap suatu penyakit mental yang bernama skizofrenia. Penyakit ini membuat Nash tidak bisa membedakan halusinasi dan kenyataan, kerap mengalami delusi (memiliki keyakinan yang salah), dan terkesan anti sosial.

Dalam film ini akan diperlihatkan bagaimana perjuangan Nash melawan penyakitnya sembari ia juga mengabdi sebagai dosen dan ahli matematika. Kita akan dapat mengetahui pula bagaimana ia akhirnya sukses menghasilkan penemuan besar dan dapat meraih nobel ekonomi pada tahun 1994.

The Great Debaters di Tahun 2007

The Great Debaters adalah film yang mengisahkan perjuangan sebuah kelompok debat dari kampus khusus anak kulit hitam bernama Wiley College di Texas, Amerika Serikat. Film ini diangkat dari kisah nyata berlatar tahun 1953, yang mana ketika itu isu rasisme dan perlawanan serikat petani sedang marak-maraknya terjadi. Dalam film ini, kita akan mengetahui bagaimana parahnya isu rasisme yang terjadi di sana sampai-sampai membuat warga kulit hitam mendapatkan perlakuan diskriminatif. Misalnya saja kita akan tahu bahwa pada zaman itu, kampus untuk anak kulit hitam dan anak kulit putih ternyata dipisahkan. Kampus khusus anak kulit putih biasanya memiliki fasilitas terbaik, sedangkan kampus anak kulit hitam sebaliknya.

Sebuah lomba debat antar kampus menjadi titik balik untuk melawan rasisme. Profesor Tolson, dosen di Wiley College akhirnya membentuk tim debat kampus mereka untuk pertama kalinya. Ternyata, Profesor Tolson punya misi tersendiri atas dibentuknya tim debat tersebut. Melalui lomba debat, ia ingin menyuarakan diskriminasi dan ketidakadilan yang didapat warga kulit hitam selama ini. Tantangan berat akan dihadapi tim debat dari Wiley College. Mereka harus berhadapan dengan kampus-kampus unggulan yang berisi anak kulit putih, tidak terkecuali Universitas Harvard.

Hotel Mumbai di Tahun 2018

Jika ingin mengulas kembali kisah serangan teroris di India pada tahun 2008, mungkin film ini bisa dijadikan tontonan. Hotel Mumbai diangkat dari peristiwa nyata saat sekelompok teroris menyerang sejumlah lokasi di Mumbai, India, pada tanggal 28 November 2008. Serangan tersebut memakan korban jiwa lebih dari 200 orang dan 400 orang lebih lainnya terluka.

Walaupun serangan tersebut terjadi di banyak lokasi, tetapi film ini khusus mengangkat serangan yang terjadi di Hotel Mumbai, salah satu hotel mewah di Kota Mumbai. Sudut pandang yang diambil lebih kepada para pelayan dan tamu hotel ketika serangan teroris terjadi. Dedikasi para pelayan hotel di sana memang patut diacungi jempol. Meskipun bertaruh nyawa di hadapan teroris, para pelayan ini tetap melindungi tamu hotelnya dengan segenap yang mereka bisa. Kisah yang heroik sekaligus mencekam. 

The Imitation Game di Tahun 2014

Film yang satu ini tidak boleh kalian lewatkan. Kenapa tidak boleh, karena film ini mengangkat biografi Alan Turing, pencetus mesin yang menjadi cikal-bakal terciptanya laptop atau gadget-gadget canggih yang sekarang kita pakai. Alan Turing pada dasarnya adalah seorang ahli kode yang merupakan lulusan Universitas Cambridge. Ia diminta oleh Britania Raya untuk memecahkan kode Enigma, sebuah mesin pengirim pesan milik Jerman yang saat itu adalah musuh utama Britania Raya di Perang Dunia II. 

Turing lalu membentuk tim ahli untuk memecahkan kode pada mesin Enigma tersebut. Ia dan tim harus menghadapi 159 triliun kemungkinan kode setiap harinya pada Enigma. Jelas saja itu diluar kemampuan manusia normal. Turing kemudian membuat mesin khusus untuk memecahkan kode Enigma yang menjadi awal mula gadget di genggaman kita. Sisi lain tentang Alan Turing juga diangkat dalam film ini. Misalnya saja seperti saat ia dicurigai sebagai mata-mata musuh karena cenderung individualis dan tidak mau bekerja sama. Karakternya yang introvert memang membuatnya kesulitan dalam bergaul. Bahkan, sisi lain yang mengejutkan tentangnya juga diangkat di film ini.

Snowden di Tahun 2016

Snowden, adalah nama seorang mantan prajurit militer serta mantan pegawai ahli CIA dan NSA. Keahlian komputernya yang luar biasa membawa dirinya menjadi ahli komputer yang cukup diandalkan di kesatuan intelijen Amerika Serikat. Oh iya, nama lengkapnya sendiri adalah Edward Snowden. Snowden akhirnya adalah orang yang mengungkap skandal besar di badan intelijen Amerika Serikat. Ketika itu ia memilih melarikan diri dari pekerjaannya dan membocorkan dokumen-dokumen penting kepada publik. Lalu dokumen apa yang dibocorkan Snowden? Dokumen itu berisi bukti bahwa Amerika Serikat ternyata selalu mengawasi seluruh aktivitas warganya secara diam-diam. Seluruh perangkat seperti telepon genggam dan komputer yang terhubung ke internet adalah media Amerika Serikat dalam melakukan hal ini.

Betapa tidak, e-mail, chatting, percakapan via telepon, seluruh aktivitas media sosial bisa dilacak secara real time. Bahkan, seluruh aktivitas real kita bisa terekam secara live melalui kamera gadget yang kita letakkan di rumah sendiri. Snowden merasa hal itu telah melanggar privasi semua orang. Rentetan perjalan Edward Snowden dalam merintis karirnya di intelijen Amerika Serikat juga dikupas tuntas. Hingga ia semakin lama semakin sadar bahwa banyak aktivitas dalam intelijen Amerika Serikat yang menurutnya tidak benar. Dilema seorang Snowden semakin terasa ketika ia harus memilih antara melanjutkan karirnya atau membocorkan kepada publik skandal-skandal besar yang disembunyikan negaranya sendiri. Jika ia membocorkan aktivitas intelijen negaranya, tentu saja keselamatannya akan terancam. Ini film fiksi? Tidak, ini skandal nyata yang diangkat menjadi film.

Brexit: The Uncivil War di Tahun 2019

Apakah kalian masih ingat soal isu Brexit pada tahun 2016 lalu? Film yang berjudul sama ini mengangkat seluruh rangkaian peristiwa sebelum referendum Brexit yang menghebohkan dunia itu terjadi. Bertahan atau keluar dari Uni Eropa? Itulah inti dari referendum yang dilakukan Inggris Raya ketika itu. Pro dan kontra pasti terjadi dalam proses politik seperti ini. Kubu pendukung kerajaan Inggris kebanyakan memilih untuk tetap bertahan di Uni Eropa, sedangkan kubu oposisi mayoritas memilih keluar. 

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi mengapa referendum ini bisa terjadi. Paling umum tentu saja faktor sosial dan ekonomi di Inggris Raya sendiri. Namun, sudut pandang film ini ada pada sisi yang berbeda. Brexit yang telah menjadi isu dunia telah dijadikan sebuah studi baru dalam memahami tren politik. Melalui Brexit, kita akan tahu bagaimana spanduk, selebaran, dan orasi, tidak lagi berpengaruh dalam kampanye politik. Brexit membuktikan kalau kampanye politik sudah bergeser pada internet, sistem informasi, big data, dan algoritma. 

, ,
[Top]